Gong Berantai
Pada
pertunjukkan seni Se-Sumatera yang diadakan di Taman Budaya Jambi. Saya ingin
membahas salah satu pertunjukkan yang ditampilkan yaitu pertunjukkan tari yang
berasal dari Bangka Belitung. Judul tarian yang dibawakan adalah Gong Berantai dimana
rantai pada gong tersebut adalah rantai
emas.
Tarian
itu dibawakan oleh penari yang berasal dari sanggar seni Lawang Budaya yang ada
di Bengkulu. Tarian itu ditarikan oleh 9 orang penari dimana 6 penari wanita
dan 3 penari laki-laki. Trisna Anggraini, Firda Lestari, Raden Azty Afif
Dyandi, Mona Dwi Aryani,Rozanda Rizva Azzahra, Rizka Miranda Putri, Doni,
Anjani Pribadi dan RezikaMariandy adalah nama dari penari-penari tersebut.
Dari
hasil wawancara singkat dengan salah satu penari laki-laki pada pertunjukkan gong berantai yang bernama Anjani
Pribadi.tari gong berantai mempunyai asal-usul ceritanya sehingga diangkat
menjadi suatu tarian. Cerita itu dimulai pada suatu desa dimana pada saat itu terjadi suatu kekeringan
/kemarau panjang di salah satu desa
daerah Bangka Belitung. Lalu mereka meminta hujan agar turun, alat yang menjadi
media untuk dipakai menurunkan hujan adalah gong yang mempunyai rantai emas
dimana gong itu dipercaya masyarakat mempunyai kekuatan spiritual pada gong
yang dianggap keramat dan sakti oleh masyarakat yang berada disana. Setelah
mereka melakukan ritual dengan gong
tersebut untuk memanggil hujan, maka hujan pun turun begitu deras. Masyarakat
pun gembira dan bersuka cita. Mereka menari-nari dan bernyanyi. Namun, mereka
terlalu asik hingga mereka lupa jika hujan turun begitu deras secara terus
menerus sehingga menyebabkan banjir bandang dan menenggelamkan masyarakat
beserta gong dengan rantai emas
tersebut. Hingga saat ini gong yang mempunyai rantai emas tersebut yang dipercaya
mempunyai kekuatan gaib itu tidak pernah ditemukan lagi.
Dari
cerita inilah mereka mengangkat cerita gong berantai. Properti yang digunakan
pada saat pertunjukkan berupa sebuah gong yang cukup besar yang diartikan sebagai
gong sakti serta beberapa gong kecil yang mirip seperti kompangan dengan warna
alat yang sudah di cat dengan warna keemasan.
Nah,
pada saat turun hujan deras terus menerus dan menyebabkan banjir. Penari
menggunakan property 2 kain panjang yang yang dibentang panjang dimana itu
menggambarkan air yang menenggelamkan perkampungan serta adanya salah satu
penari yang berada diantara dua kain. Penari itu menggambarkan dirinya sebagai
masyarakat yang tenggelam disertai gong sakti yang berjalan diantara kain
seperti menggambarkan gong itu hanyut terbawa arus. Kesan cerita disertai
expresi penari membuat cerita itu semakin hidup.
Pada
bagian kostum penari yang ditata sekaligus dirias oleh penata yang bernawa
Juwita Handayani, penari memakai kostum batik yang didesain layaknya baju
kutubaru yang lagi modis saat ini. Ini membuat tarian dari segi kostum lebih
menarik. Pada alat music pengiring yang dipakai, mereka menggunakan jimbe,
gendang melayu, akordion dan tawak-tawak. Tawak-tawak adalah alat musik khas
daerah Bangka Belitung. Alat musik tawak-tawak ini merupakan alat musik yang
menyerupai seperti kelintang, hanya saja ada yang berbeda pada alat musik
tawak-tawak ini. Ukuran kayu yang dibuat pada tawak-tawak adalah sama panjang,
yang membuat nada-nadanya berbeda dengan ditentukan dari tebal tipisnya kayu
yang dipukul. Berbeda dengan kelintang dimana ukuran panjang dari kayu
berbeda-beda. Nama pemusik yang membantu adalah Nahwandsona, Kriz Sona, Reza
Akbar, Zaenal Anwar dan Satria Darmawan.
Tarian
gong berantai yang ditampilkan merupakan bentuk dari tari kreasi yang
dikembangkan berdasarkan tradisi dan kejadian yang terjadi dari sebuah kampung
yang ada di Bengkulu. Selain itu mereka juga mengatakan bahwa tarian itu juga
memasukkan unsur-unsur tari kedidi dari daerah mereka. semua itu tidak terlepas
dari garapan Koreografer sekaligus
Komposer yang bernama Juwita Handayani.
Komentar
Posting Komentar