MAKALAH SEJARAH SENI PERTUNJUKKAN
LONGSER
Nama
Kelompok :
1.
Siti Amalia Rizki (I1D115001)
2.
Muhammad Idris Saleh (I1D115007)
3.
Ratumas Fitri Wulandari (I1D115006)
4.
Enny Afrillia (I1D115032)
5.
Afrillia Mahindri (I1D115029)
Dosen Pembimbing :
Cerly Chairani Lubis M.Sn
SENDRATASIK
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2015
KATA
PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Allhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, tidak lupa
pula shalawat dan salam untuk junjungan kita yakni Muhammad SAW yang
mengantarkan kita pada cahaya islam.
Kami
berterimakasih kepada Ibu Cerly Chairani Lubis M.Sn selaku Dosen mata kuliah Sejarah
Seni Pertunjukkan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka untuk menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Seni Pertunjukkan Longser.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membaca. Sebelumnya
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan.
Jambi, September 2015
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah .................................................................................. 1
1.3
Tujuan .................................................................................................... 2
BAB
2 PEMBAHASAN
1.1
Pengertian Longser ................................................................................ 3
1.2
Asal-Usul Longser.................................................................................. 3
1.3
Struktur Pertunjukkan Longser .............................................................. 6
1.4 Bentuk
Pergelaran Longser.................................................................... 13
BAB
3 PENUTUP
5.1
Simpulan ................................................................................................ 19
5.2
Saran...................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Penulisan Makalah
Indonesia kaya akan berbagai macam budaya dimana salah
satunya pertunjukan Longser.Longser sering disebut dengan Teater. Teater tradisional atau Teater Rakyat yang lahir di
tengah-tengah rakyat dan masih menunjukkan kaitan dengan upacara adat dan
keagamaan. Artinya pertunjukan hanya dilaksanakan dalam kaitan dengan upacara
tertentu, seperti khitanan, perkawinan, selamatan dan yang menanggung semua pembiayaan adalah yang
punya hajat dan dapat ditonton gratis oleh undangan dan masyarakat. Tempat
pertunjukan dapat dimana saja seperti halaman rumah, kebun, balai desa, tanah
lapang.
Namun, masyarakat cenderung lebih tertarik kepada
hal-hal yang baru yang bersifatlebih
modern dan melupkan pertunjukan yang bersifat tradisional dari daerahnya. Oleh
sebab itu, kami ingin membahas
pertunjukkan Longser. Selain itu, kami juga ingin memperkenalkan seni
pertunjukkan Longser karna saat ini, banyak dari anak-anak muda yang tidak
mengenal akan pertunjukkan itu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian Pertunjukan Longser ?
2. Bagaimana
Asal-Asul Pertunjukkan Longser ?
3. Apa
Saja Struktur Pertunjukkan Longser
?
4. Apa
Saja Bentuk Pergelaran Longser ?
C.
Tujuan
Makalah ini ditulis untuk :
1. Untuk
mendeskripsikan Pengertian Pertunjukan
Longser
2. Untuk
mendeskripsikan Asal-Asul Pertunjukkan Longser
3. Untuk
mendeskripsikan Struktur Longser
4. Untuk
mendeskripsikan Bentuk Pergelaran Longser
D.
Manfaat
Makalah ini dibuat untuk semua
masyarakat umum yang ingin mengetahui tentang seni pertunjukkan longser.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Longser
Kata
Longser terdiri dari Long (melong) dan Ser (rasa/gairah seksual) . Longser merupakan salah satu
jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan, khususnya di
daerah Bandung.
Dari
beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah
pertunjukan rakyat yang disebut doger.
Dalam perkembangannya, doger
berubah menjadi lengger
kemudian berubah lagi menjadi longser
.
Bentuk
pertunjukan longser adalah
sebuah teater rakyat yang mengandung unsur tari, nyanyi, lakon dengan ditambah
lelucon. Biasanya, pertunjukan ini dilakukan pada malam hari di tempat terbuka
dengan menggelar tikar. Hal itu membuat penonton membuat setengah lingkaran
seperti tapal kuda. Di tengah arena pun diletakkan oncor sebagai alat
penerangan.
B.
Asal-
Usul Longser
Longser merupakan
salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan,
khususnya di daerah Bandung. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar
tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah pertunjukan rakyat yang disebut doger. Dalam perkembangannya doger berubah menjadi lengger kemudian berubah lagi menjadi
longser. Longser cukup berjaya
sekitar tahun 1920-1960-an. Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa artinya. Akan tetapi
beberapa keterangan mengaitkan pengertian itu dalam kirata basa. Di dalam bahasa Sunda, ada yang dinamakan kirata basa (akronim) kependekan dari
dikira-kira tapi nyata. Long
dari kata melongyang artinya
memandang dan berartinya ada
sesuatu rasa, hasrat, atau gairah seksual. Namun tampaknya pengertian itu hanya
dikarang-karang saja karena belum tentu kebenarannya, terlihat seperti terlalu
dipaksakan.
Bentuk pertunjukan longser adalah teater rakyat yang
di dalamnya terdapat unsur tari, nyanyi, lakon yang di dalamnya sarat dengan
lelucon. Biasanya dipertunjukan pada malam hari di tempat terbuka dengan
menggelar tikar. Secara otomatis penonton pun membuat setengah lingkaran
seperti tapal kuda. Di tengah-tengah arena biasanya diletakkan oncor bersumbu tiga atau lima sebagai
alat penerangan. Gamelan diletakkan di belakang yang sekaligus juga sebagai
tempat berganti pakaian oleh anggota rombongan. Walaupun umumnya pertunjukan
malam hari, namun kadangkala dipertunjukan pula siang hari dengan istilah lain
yaitu lontang.
Longser biasanya dipertunjukan dengan cara
mengamen, walaupun sekali-kali ada yang nanggap.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam pertunjukan Longser adalah ketuk, kendang, dua buah saron,
kempyang, kempul, goong, kecrek, dan rebab. Dalam perkembangannya waditra yang digunakan semakin
lengkap yaitu ditambah dengan terompet, bonang, rincik, gambang, dan jenglong
yang berlaraskan salendro.
Antara tahun 1920-an hingga tahun 1960-an Longser Bang
Tilil terus mengalami perkembangan hingga mencapai masa puncaknya. Di samping
itu, muncul pula kelompok-kelompok lain seperti Bang Soang, Bang Timbel, Bang
Cineur berasal (Cimahi). Bang Kayu (Batu Karut), Bang Auf (Kamasan, Sumanta
(Cikuda). Tahun 1939 terbentuk grup Longser
Pancawarna yang dipimpin oleh Ateng Japar. Ateng Japar pada awalnya
bersatu dengan Bang Tilil tetapi kemudian memisahkan diri dengan membentuk grup
baru. Kedua grup ini kemudian membuat komitmen untuk membagi wilayah
pertunjukan. Bang Tilil menguasai daerah Kota Bandung sedangkan Ateng Japar
menguasai daerah di luar Kota Bandung. Kini kelompok-kelompok longser sudah jarang ditampilkan.
Namun demikian sekitar tahun 1990-an muncul longser yang dikemas menjadi seni pertunjukan oleh mahasiswa
teater STSI Bandung. Terbentuklah kelompok LAP (Longser Antar Pulau).
Musik
Longser sebelum berkembang terdiri dari :
- kendang
- terompet
- rebab
- saron
- goong
- kecrek
Perkembangan
selanjutnya menjadi lengkap :
- kendang
- bonang
- rebab
- rincik
- gambang
- saron 1
saron 2
- kecrek
- jengklong
- goong
- ketuk
dimana kesemuanya berlaras Salendro.Busana
yang dipakai sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana yang
dipakai oleh ronggeng biasanya memakai kebaya dan samping batik . Untuk lelaki
memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala . Dalam
perkembangannya Longser dikemas menjadi bentuk Longser moderen dengan
memakai naskah dan tidak menggunakan setting oncor / memakai pengiring
karawitan tetapi lebih kepada perkembangan konsepnya yang diambil dengan
garapan baru .
C. Sruktur Longser
biasanya terdiri dari :
- Tatalu
dengan lagu Gonjing sebagai bewara bahwa pertunjukan Longser.
- Kidung
sebagai bubuka yang dianggap memiliki kekuatan magis untuk upaya pertunjukan
lancar juga disisi lain kidung dipakai lagu persembahan pada arwah nenek
moyang kidung biasanya dinyanyikan oleh ronggeng yang perkembangannya
dinyanyikan oleh Sinden.
- Munculnya
penari-penari yang diawali dengan wawayangan ( tarian perkenalan para
ronggeng dengan memperkenalkan para penari dengan julukan seperti si
Batresi Oray, Si Asoy,si Geboy. goyang pinggul diistilahkan dengan eplok
cendol , tari yg dibawakan adalah ketuk tilu / Cikeruhan
- Penampilan
bobodoran dengan musik dan tarian biasanya bodor menirukan tarian ronggeng
/ kata-kata sehingga penonton tertawa
- Pertunjukan
Longser memainkan sebuah lakon yang diambil dari kehidupan seharian
seperti perkawinan, pertengkaran, perceraian . Setiap cerita dibawakan
dengan penuh canda, atau banyolan khas lokal.
D.
Bentuk
Pergelaran Longser
Bentuk pergelaran longser dibangun
dari beberapa bagian penting yang menjadi ciri khas kesenian tersebut. Sebuah
pergelaran Longsér biasanya dilengkapi oleh nayaga (penabuh musik), pemain,
bodor (pelawak), dan ronggeng (penari merangkap penyanyi) yang berfungsi daya
tarik tersendiri bagi penonton.
1.
Nayaga
Nayaga merupakan istilah pedalangan
berarti sekumpulan orang atau sekelompok orang yang mempunyai keahlian khusus
menabuh musik. Adapun jenis peralatannya adalah gamelan (musik pengiring);
gendang, rebab, saron, bonang, panerus, goong dan kecrek. Peralatan lainnya
adalah lampu penerang, bisa berupa patromak atau oncor/obor (sejenis). Sampai
saat ini, beberapa grup Longser masih menggunakan obor, walaupun hanya sebagai
simbol karena penerangan sudah memakai listrik. Sebagai pengeras suara, mereka
menggunakan spiker dan accu.
Perbatasan antara pemain dan penonton hanyalah menggunakan
sebuah garis putih, berupa serbuk kapur yang ditaburkan membentuk lingkaran.
2.
Ronggeng
Ronggeng dikenal sebagai penari merangkap penyanyi pada
seni Longser. Banyak yang beranggapan miring pada tokoh yang satu ini, bahwa
ronggeng adalah wanita perayu dengan tarian erotis sebagai pemikatnya.Anggapan
tersebut membuat beberapa penari Longser saat ini enggan disebut ronggeng.
Padahal ronggeng mempunyai peran yang sangat penting dalam seni Longsér. Ia
mempunyai daya tarik tersendiri, dan akan terasa hambar jika Longsér tidak
dilengkapi oleh ronggeng.
Setelah nayaga menabuh gamelan, dan penonton mulai datang,
permainan pun dimulai. Ronggeng bertugas membuka pementasan dengan sebuah
tarian. Dilengkapi Kostum dan tata rias yang cukup mencolok, ronggéng menari di
tengah-tengah penonton dengan berbagai jenis nuansa gamelan. Beberapa gerakan
tari, seperti “éplok céndol” (tarian dengan gerakan goyang pinggul yang cukup
erotis), cukup membuat penonton terkesima. Nah, daya tarik inilah yang kemudian
membuat para penonton enggan beranjak.
Selain ronggeng muda, dengan penampilan cantik dan menarik,
juga ada ronggéng yang sudah berumur. Ronggéng yang satu ini biasanya
menampilkan tarian kocak yang membuat penonton terbahak-bahak. Dalam sebuah
pementasan Longser, ronggeng hadir beberapa kali. Apalagi banyak ronggeng yang
ikut berakting dengan pemain lainnya. Beberapa grup Longser mempunyai lebih
dari satu ronggeng. Mereka menari dan menyanyikan lagu-lagu Sunda silih
berganti. Ronggéng pun berperan pada saat “ngarayuda” (meminta sumbangan
alakadarnya kepada penonton sebagai imbalan pementasan). Ronggeng yang cukup
terkenal adalah Si Kucrit dari grup Longséng Bang Tilil.
3.
Bodor
Salahsatu ciri khas seni Longser adalah dengan adanya bodor
atau pelawak. Bodor hadir setelah ronggeng menampilkan tarian pembuka. Ia kemudian
menari meniru ronggéng, dengan gerakan yang kocak dan mimik yang humoris. Bodor
bertugas memperkenalkan grup Longser yang sedang pentas, menggunakan bahasa
yang komunikatif dan seringkali dibumbui dengan canda. Jika pementasan diadakan
dalam sebuah kariaan, maka bodor pun mengungkapan maksud dan tujuan
penyelenggara kariaan.
Setelah itu, bodor meminta menari bersama ronggéng. Nah,
ketika itu, munculah bodor lain dan ikut menari. Kemudian secara katikatural
mereka berebut ronggeng. Ronggeng kemudian meminta bayaran, dan karena bodor
(pura-pura) tidak mempunyai uang, maka mereka “ngarayuda”, meminta sumbangan
kepada penonton. Namun ada juga penonton yang spontan melemparkan uang ke arena
pentas dengan menggunakan saputangan atawa kain karembong.
Setelah itu bodor pun mulai berdialog dengan mengangkat
sebuah téma yang telah dipersiapkan. Umumnya, tema yang diangkat adalah
kehidupan sederhana masyarakat Sunda. Beberapa pemain (selain bodor)
menampilkan berbagai peran, dari ketua RT sampai orang kaya yang kikir.
Cerita dalam Longser umumnya spontanitas, dan naskah, atau
bahkan merupakan pengulangan cerita lain yang pernah dipentaskan. Tema cerita
pun bagian dari kehidupan sehari-hari, umpamanya tentang “bobogohan” (kisah
cinta) antara orang miskin dengan orang kaya. Kisah sederhana ini, sering
dilengkapi oleh konflik yang lucu, dan selalu diakhiri dengan happy ending.
Kadang-kadang, cerita pun tidak selesai dipentaskan berhubung keadaan alam,
misalnya turun hujan, atau karena sudah tidak ada penonton.
Belakangan ini, cerita pada Longsér dipersiapkan dengan
naskah skenario. Tetapi unsur spontanitas serta komunikasi dengan penonton
masih dipertahankan.
Longser dan Peralatan Sederhananya adalah jenis kesenian yang sangat merakyat. Berbagai unsur seni
bergabung dalam Longser, mulai dari seni akting, seni musik, dan seni tari.
Peralatan yang digunakan untuk pementasan pun cukup sederhana. Kostum misalnya,
tidak menggunakan kostum khusus, namun menggunakan pakaian sehar-hari. Dari
mulai datang hingga pementasan, tidak pernah berganti pakaian (kecuali ronggeng).
Tidak seperti sekarang, kostum Longser telah dipersiapkan, sesuai dengan tokoh
yang akan diperankan.
Ronggeng misalnya, hanya mengenakan kebaya dan samping
dengan motif batik. Tata riasnya pun sederhana, walaupun cukup “menor”
(mencolok). Pada perkembangan selanjutnya, busana ronggeng diseragamkan.
Sedangkan busana bodor dan pemain lainnya berupa baju kampret, celana sontog,
kain sarung, kopiah atau ikat kepala.
Begitu juga peralatan lainnya, menggunakan barang-barang
yang ada di sekitar pementasan. Ketika sebuah cerita memerlukan peralatan kursi
misalnya, maka gendang pun dapat difungsikan sebagai kursi.
Ketika Longser dipentaskan di arena terbuka, penataan
“panggung” dilaksanakan sesaat sebelum acara dimulain. Artinya tidak ada
persiapan yang panjang seperti layaknya sebuah pementasan teater. Mengacu pada
Longser Bang Tilil, yang dipentaskan pada tahun 1950-an, para pemain dan nayaga
datang pada sore hari, sekitar pukul empat. Mereka datang dengan menggunakan beca
sebagai sarana pengangkut peralatan. Ada juga grup Longser yang tidak
dilengkapi dengan kendaraan. Mereka datang sambil memikul peralatan, dan
disimpan di mana longser akan digelar, misalnya di stasiun. Hal ini untuk
mengundang perhatian penonton, sebagai pertanda bahwa pada malam itu akan
dilaksanakan pertunjukan Longser.
BAB
3
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Longser
merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di
daerah Priangan, khususnya di daerah Bandung. Bentuk pertunjukan longser adalah sebuah teater
rakyat yang mengandung unsur tari, nyanyi, lakon dengan ditambah lelucon.
Longser merupakan
salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan,
khususnya di daerah Bandung. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar
tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah pertunjukan rakyat yang disebut doger. Dalam perkembangannya doger berubah menjadi lengger kemudian berubah lagi menjadi
longser. Longser cukup berjaya
sekitar tahun 1920-1960-an. Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa artinya. Long dari kata melongyang artinya memandang dan berartinya ada sesuatu rasa, hasrat,
atau gairah seksual.
Struktur longser terdiri dari
tatalu, kidung, penari, bobodoran, dan pertunjukkan longser.
Bentuk pergelaran longser dibangun dari
beberapa bagian penting yang menjadi ciri khas kesenian tersebut. Sebuah
pergelaran Longsér biasanya dilengkapi oleh nayaga (penabuh musik), pemain,
bodor (pelawak), dan ronggeng (penari merangkap penyanyi) yang berfungsi daya
tarik tersendiri bagi penonton.
B.
SARAN
Kritik dan saran
untuk perbaikan makalah ini sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://pesonabandungselatan.blogspot.co.id/2011/11/asal-muasal-seni-longser.html,7
Desember 2015, 20:13.
https://hasdianadi.wordpress.com/2012/12/05/sejarah-longser/,7
Desember 2015,
20:13.
http://www.kidnesia.com/Kidnesia2014/Indonesiaku/Teropong-Daerah/Jawa-Barat/Seni-Budaya/Longser-Asal-Jawa-Barat, 8 Desember 2015, 19:01.
http://nurrachmad-tkj1.blogspot.co.id/, 12 Desember 2015, 09:03.
http://wisatadanbudaya.blogspot.co.id/2009/10/longser-dan-kesenian-jawa-barat.html, 12 Desember 2015, 09:03.
SESI TANYA
1. Sabri
Hidayat :Apa maksud dari setengah lingkaran dan berapa lama durasi pertunjukkan
longser ?
2.
Cristian Feri Andre : Apakah longser ini pernah ditampilkan di acara komersial (ditampilkan
di televisi) ?
3.
Puji Puspita : Apa makna dari pertunjukkan Longser ?
4.
Danang Kurnianto : Cerita apa saja yang dibawakan dalam pertunjukkan longser ?
5.
Wahyu Apriadi : perpindahan dari kata doger sampai menjadi longser, adakah
faktor yang mempengaruhi ?
6.
Gustina Sri Rizki : Doger itu apa sih ?
SESI MENJAWAB
1.
Setengah
Lingkaran
Setengah
lingkaran itu maksudnya adalah penonton yang mengelilingi pertunjukkan longser
atau panggung pertunjukkan. Kenapa hanya setengah lingkaran yang seperti tapak
kuda, itu karena di belakang pemain musik atau di belakang panggung merupakan
tempat para penari atau pelaku seni berganti pakaian dan bersiap- siap.
Kenapa
tidak dibuat satu lingkaran penuh ? jika di buat lingkaran penuh, penonton akan
kesulitan menonton pertunjukkan longser karna tertutup oleh nayaga ( Penabuh
Musik ) beserta alat-alatnya. Selain itu, pelaku juga akan membelakangi
penonton.
Durasi
Pertunjukkan :
Pola dasar pelaksanaan pagelaran secara garis besar berbentuk
seperti berikut :
a. Tatalu yaitu instrumental selama 20 menit dengan tujuan mengumpulkan
penonton.
b. Bubuka/pembukaan dengan jalan menampilkan 4
pesilat secara rampak.
c. Penari tunggal yang diikuti oleh 2 pelawak
sehingga si penari minta bantuan kepada pemimpin pementasan dan selanjutnya
pementasan selang seling antara melawak, menari dan dialog. Dalam melawak
tersebut si penari dijadikan sumber/alat melawak bagi si pelawak dengan penentu
keputusan adalah pimpinan pementasan.
Demikian pementasan sampai dengan pukul 23 malam.
d. Setelah itu pementasan berubah menjadi
bentuk drama yang mempunyai
alur cerita dengan berakhir sampai pukul 1 malam, Kecuali bila mengadakan pementasan pada orang
kenduri atau selamatan biasanya pementasan berakhir sampai dengan pukul 3
pagi.
Nah, sebenarnya lama pertunjukkan longser ini
tergantung kebutuhan dan permintaan. Namun biasanya pertunjukkan ini di mulai
dari jam 20:00-22:00 di malam hari.
2.
Penampilan
Komersial
Seperti video yang kami tampilkan, pertunjukkan
longser juga sering ditampilkan, salah satunya di stasiun televise TVRI. Karna
kurangnya Apresiasi terhadap pertunjukkan longser membuat kita tidak mengetahui
ciri-ciri pertunjukkan longser. Bisa jadi pertunjukkan yang kita tonton
merupakan pertunjukkan longser yang kita tidak tahu.
3.
Makna
Kesenian Longser
Makna (pesan) dari pertunjukan longser itu sendiri tergantung dari cerita
yang dibawakan. Misalnya cerita yang mempunyai pesan moril dan Agama. Salah
satu contohnya seperti video yang sempat kami putar dengan judul “Kabayan
Kesurupan”. Nah hal yang dapat sedikit
kami jelaskan karna vidionya terpotong dan tidak full. Jadi contoh dari segi
moril yang dapat kami jelaskan itu tentang sifat individual yang terjadi saat
sekarang dimana seseorang hanya sibuk dengan gadget nya sendiri.
4.
Cerita-Cerita yang Dibawakan
Cerita yang biasa dipentaskan Longser :
A. Karta Genjer
B.
Haji Nyandung
C. Kedok
Torotol
D.
Si Letar
E.
Madgono dan
Sutejo Mak Solo
Lagu-lagu sebelum Longser :
1.
Kembang Beureum 4. Pareredan
2.
Polos
Tomo
5. Kadipatenan
3.
Golempang
6. Kacang Asin
Lagu-lagu
waktu Longser :
1.
Kembang Beureum 7. Polos Tomo
2.
Kembang Gadung 8.
Golempang.
3.
Pareredan
9. Kadipatenan
4.
Kacang
Asin
10. Geboy
5.
Cikeruhan
11. Hayam ngupuk
6.
Sorban
Palid
12. dsb.
5. Perpindahan Doger hingga Longser
Dari
beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah
pertunjukan rakyat yang disebut doger. Dalam perkembangannya doger berubah
menjadi lengger kemudian berubah lagi menjadi longser.
Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa
artinya. Akan tetapi beberapa keterangan mengaitkan pengertian itu dalam kirata
basa. Di dalam bahasa Sunda, ada yang dinamakan kirata basa (akronim)
kependekan dari dikira-kira tapi nyata. Long dari kata melongyang
artinya memandang dan berartinya ada sesuatu rasa, hasrat, atau gairah
seksual. Namun tampaknya pengertian itu hanya dikarang-karang saja karena belum
tentu kebenarannya, terlihat seperti terlalu dipaksakan.
Nah adakah fakor yang
mempengaruhi pertunjukkan Longser ? menurut kami faktor-faktor perkembangan
yang terjadi itu karna adanya beberapa hal :
1.
Perkembangan
zaman yang ada di daerah.
2.
Kreativitas
dari para seniman untuk mengembangkannya baik dari segi pertunjukkan hingga
busana.
3.
Pemisahan group yang menyatu sperti Ateng Japar
pada awalnya bersatu dengan Bang Tilil tetapi kemudian memisahkan diri dengan
membentuk grup baru sehingga
membuat cerita semakin berkembag.
6.
Doger
Doger itu merupakan nama
awal sebelum menjadi nama longser. Doger
itu dulunya adalah sebuah pertunjukkan
tari (tandak). Tari tandak ini tergolongntarian pergaulan yang biasanya
ditampilkan oleh para penari pria dan wanita. Karna cerita yang ditampilkan
kebanyakan tentang laki-laki yang merayu wanita namun dibawakan dengan unsur
comedy.
TAMBAHAN MENJELASKAN
Gambar 1: Keterangan
pakain laki-laki
Gambar 2: Pakaian
laki-laki
Komentar
Posting Komentar